Kata”kolesterli’mungkin
tidak lagi asing di telinga Anda. Bahkan, kata ini menjadi momok kebanyakan
orang karena terbayang penyakit seram yang mengikutinya.
Kolesterol
merupakan salah satu komponen lemak yang ada dalam tubuh. Senyawa ini sering
dikaitkan dengan pola makan tinggi lemak. Sebenarnya jika ditelaah lebih
lanjut, kolesterol merupakan zat gizi yang diperlukan tubuh. Berikut ini
sejumlah manfaat kolesterol.
• Penyumbang
energi yang lebih tinggi daripada protein.
• Pelapis
selaput sel.
• Bahan dasar
pembentukan hormon-hormon steroid.
• Pembuat
garam empedu yang penting untuk mencerna lemak.
• Pelarut
vitamin A, D, E, dan K.
• Berperan
dalam membantu perkembangan jaringan otak anak.
Namun,
kolesterol berubah menjadi jahat’ jika kadarnya dalam tubuh melebihi normal.
Kelebihan kolesterol akan disimpan dan menempel di dinding pembuluh darah
hingga menimbulkan pengapuran (aterosklerosis). la bagaikan karat yang kian
menebal dalam alur pipa. Kolesterol melekat lapis demi lapis, perlahan-lahan
tanpa disadari penderitanya. Akibatnya, aliran darah yang melewati pembuluh
darah menjadi tidak lancar. Oksigen yang dibawa darah untuk mensuplai jantung
dan otak otomatis menjadi lebih sedikit. Ada ketidakseimbangan antara oksigen
supply dan oksigen demand. Inilah cikal-bakal terjadinya penyakit jantung
koroner (PJK) dan stroke.
Saat ini,
tidak hanya paruh baya yang jadi sasaran empuk ‘si kolesterol tinggi’ Kawula
muda pun banyak yang terkena hiperkolesterolemia (kelebihan kolesterol).
Penelitian baru justru menunjukkan bahwa pria muda dengan kolesterol tinggi
menghadapi risiko jangka panjang yang lebih besar daripada pria yang baru
didiagnosis pada usia paruh baya. Di Amerika Serikat, satu dari tiga wanita
meninggal dunia karena serangan jantung. Fakta ini mengagetkan karena selama
ini orang mengira kematian terbesar pada wanita karena kanker.
Studi yang
dilakukan WHO menyimpulkan bahwa progresi pengapuran bertambah sebesar 3% per
tahun sejak usia seseorang melewati 20 tahun. Tentu saja hal ini sangat
mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Di saat puncak produktivitas hidup,
belum tentu mereka mampu mencapainya.






0 komentar:
Posting Komentar