Sumberdaya wilayah di Indonesia sangat dipengaruhi oleh
aspek geografis secara keruangan, kelingkungan maupun kewilayahan. Sebagai
negara kepulauan yang luas dengan jumlah pulau yang banyak memiliki sumberdaya
laut (marine resources) dan daratan (land resources) yang perlu dikelola secara
terintegrasi. Aspek klimatologi, geologis/ geomorfologis, hidrologis, biotis
dan manusia serta sosio kulturnya yang beragam sangat penting dikaji dalam
mengelola sumbedaya wilayah untuk kesejahteraan bangsa.
Selain tinjauan aspek lingkungan dan kebencanaan alam yang
terjadi disetiap wilayah provinsi, kabupaten/kota perlu dijadikan kriteria
dalam perencanaan pembangunan (pengembangan industri) wilayah dan
implementasinya. Sebagai negara tropis, visi pembangunan di Indonesia perlu
memantapkan diri sebagai Negara pertanian yang kuat melalui konsep agro
produksi, agroindustri, agrobisnis, agroteknologi dan agrososio kultur serta
tourisme. Pendekatan ini dapat
mengurangi resiko kerusakan lingkungan dan bencana alam bila dikelola dengan
baik sesuai dengan daya dukung lingkungan, oleh karena itu pembangunan nasional
kedepan diutamakan pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan penguasaan
IPTEKS untuk kehidupan. Pengelolaan sumberdaya wilayah/ ruang berkelanjutan
dapat dicapai dengan mempertimbangkan keberlanjutan ekologi ekonomi, manajemen
sumberdaya dan lingkungan, keberlanjutan teknologi dan sosio kultur.
1.
Potensi Geografis Indonesia
Negara Republik Indonesia sebagai negara kepulauan yang
terdiri dari 13667 pulau dengan 5 pulau besar, berbatasan dengan laut Andawan,
China Selatan, Malaysia, Phillipina dan Samudera Pasifik, Hindia dan
Australia. Bentang alam di daratan barat
mempunyai perairan dangkal (Dangkalan Sunda), daratan timur mempunyai perairan
dangkalan (Dangkalan Sahul) dan cekungan tengah memiliki perairan laut dalam
dengan beberapa palung laut.
Daratan Indonesia sebagian besar kelanjutan dari jalur
pegunungan Sirkum Pasifik dan jalur Sirkum Mediteran. Dataran
rendah dan luas ada di Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya dan Jawa. Terdapat gunung api aktif sekitar 200 dan
yang 70 berada di Pulau Jawa. Selain
hasil erupsi gunung api yang memberikan lahan subur pada lerengnya, juga ada
resiko bencana gunung api. Sungai-sungai
dan muara juga terdapat di pulau-pulau besar yang potensial dikelola untuk
kehidupan demikian danau-danau besar di Sumatera, Sulawesi, Jawa,
Kalimantan. Diperkirakan sekitar 7.623
pulau di Indonesia belum punya nama (ensiklopedia Indonesia seri Geografis,
1997).
Potensi flora di Indonesia beragam sesuai dengan kondisi
ekosistemnya. Tumbuhan terdapat pada zona elevasi < 700 m, 1.500 – 2.500 m
dan diatas elevasi 2.500 m dpal. Sebaran
flora mulai dari kawasan pantai, dataran rendah dan berawa, lereng kaki gunung
hingga pegunungan. Demikian corak fauna
yang beragam dan khas (corak Australia).
Penduduk yang beragam
suku dan bahasanya serta agama terdapat di wilayah Indonesia yang diperkirakan
300 kelompok etnik (suku bangsa).
Ratusan bahasa lisan (daerah) di jumpai di Indonesia, sedangkan bahasa
resmi adalah bahasa Indonesia. Beragam seni dan budaya yang dimiliki oleh
berbagai kelompok etnik tersebut.
2.
Karakteristik Spasial Potensi Geografis
Pembangunan wilayah pengembangan industri ditinjau dari
aspek spasial dan sektoral di Indonesia perlu memperhatikan zona potensi
geografis yang merupakan pendekatan spasial-ekologikal untuk menuju
kesejahteraan rakyat. Pemecahan masalah pembangunan dan upaya memajukan rakyat
dapat dikelompokkan atas 5 (lima) tipologi wilayah pembangunan geografis yaitu:
Wilayah dengan sumberdaya alam melimpah (kaya) dan
sumberdaya manusia yang banyak seperti Pulau Jawa dan Bali.
Wilayah dengan sumberdaya alam melimpah (kaya) dan
sumberdaya manusia sedikit seperti Pulau Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya,
Sulawesi.
Wilayah dengan sumberdaya alam sedikit dan sumberdaya
manusia terlalu banyak seperti Jakarta dan kota – kota besar lainnya.
Wilayah dengan sumberdaya alam sedikit dan sumberdaya
manusia sedikit seperti Nusa Tenggara dan Maluku.
Wilayah dengan sumberdaya alam yang belum diketahui
potensinya dan belum ada manusianya seperti pulau-pulau kecil yang belum
dihuni.
Dengan zonasi potensi geografis, maka pembangunan
(pengembangan industri) sektoral dapat diarahkan terutama untuk pembangunan di
kawasan tertinggal seperti pada zona Maluku dan Nusa Tenggara. Pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan dapat diarahkan agar resiko kerusakan lingkungan
dan bencana alam di tiap zona tersebut dapat dikendalikan.






0 komentar:
Posting Komentar