Keterampilan Proses
Sebenarnya
keterampila proses itu serupa dan senafas dengan CBSA karena roh dari kedua
pendekatan itu sama yaitu bagaimana agar siswa itu terlibat aktif dalam proses
belajar-mengajar di dalam kelas. Keterampilan proses ini lahir antara lain
karena guru sering hanya
memperhatikan hasil belajar dan kurang memperhatikan
proses untuk mencapai hasil itu. Dengan kata lain, guru (dan murid)
menghalalkan segala cara agar memperoleh hasil yang “baik” tanpa melihat cara
(teknik, metode, pendekatan, teori) memperoleh hasil itu. Akibatnya, guru
berlaku kurang jujur, misalnya dengan membuat soal-soal yang sangat-saangat
mudah, membiarkan murid menyontek, dan sebagainya; murid pun berlaku tidak
jujur, yakni sengaja menyiapkan sontekan, turunan, dan sebagainya. Sebenarnya,
sejak kurikulum 1975 kita sudah mengenal TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang
rumusannya mencantumkan cara-cara untuk mencapai hasil belajar yang bisa
diamati dan diukur. Dalam rumusan yang kira-kira sama, KBK pun merumuskan
“kompetensi” dengan deskriptor-deskriptor tertentu. Dalam bahasa Indonesia
pendekatan ini dapat secara langsung digunakan untuk menilai perilaku berbhasa
sehari-hari di dalam kelas secara terus-menerus.






0 komentar:
Posting Komentar