Fungsi
Manajemen
Dikemukakan di
atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak
lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen.
Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan
pandangan dari beberapa ahli, sebagai
berikut:
berikut:
Menurut G.R.
Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu :
(1) planning
(perencanaan);
(2)
organizing (pengorganisasian);
(3)
actuating (pelaksanaan); dan
(4)
controlling (pengawasan).
Sedangkan
menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi :
(1) planning
(perencanaan);
(2)
organizing (pengorganisasian);
(3)
commanding (pengaturan);
(4)
coordinating (pengkoordinasian); dan
(5)
controlling (pengawasan).
Sementara
itu, Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen,
mencakup :
(1) planning
(perencanaan);
(2)
organizing (pengorganisasian);
(3) staffing
(penentuan staf);
(4)
directing (pengarahan); dan
(5)
controlling (pengawasan).
Selanjutnya,
L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu :
(1) planning
(perencanaan);
(2)
organizing (pengorganisasian);
(3) staffing
(penentuan staf);
(4)
directing (pengarahan);
(5)
coordinating (pengkoordinasian);
(6)
reporting (pelaporan); dan
(7)
budgeting (penganggaran).
Untuk
memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan
dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif
persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1)
perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan
(actuating) dan (4) pengawasan (controlling).
1.
Perencanaan (planning)
Perencanaan
tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta
cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise
E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses
by which manager set objective, asses the future, and develop course of action
designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan
bahwa :
“
Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan
penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem,
anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan
banyak terlibat dalam fungsi ini.”
Arti penting
perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan,
sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan
seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan
bahwa perencanaan: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian
pada masalah-masalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan
gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan
cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan
koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih
khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang
tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha dan dana.
Indriyo Gito
Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam
perencanaan, yaitu :
Penentuan tujuan dengan memenuhi
persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b)
mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam
perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan.
Pendefinisian gabungan situasi secara baik,
yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya
modal.
Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan
secara jelas dan tegas.
Hal senada
dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam
perencanaan, yaitu :
(a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan;
(b)
merumuskan keadaan saat ini;
(c) mengidentifikasi segala kemudahan dan
hambatan;
(d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian
tujuan.
Pada bagian
lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas
dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu
perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :
(1)
rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka
panjang,
(2) rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan
tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai
dimensi jangka panjang, dan
(3) rencana operasional yang merupakan rencana
kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka
panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis.
Perencanaan
strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan
lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti
perkembangan teknologi yang sangat pesat, pekerjaan manajerial yang semakin
kompleks, dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya.
Pada bagian
lain, T. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah-langkah dalam
penyusunan perencanaan strategik, sebagai berikut:
Penentuan misi dan tujuan, yang mencakup
pernyataan umum tentang misi, falsafah dan tujuan. Perumusan misi dan tujuan
ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Perumusan ini dipengaruhi
oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Nilai-nilai ini dapat mencakup
masalah-masalah sosial dan etika, atau masalah-masalah umum seperti macam
produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan.
Pengembangan profil perusahaan, yang
mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil
analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang, serta
memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya -sumber daya perusahaan yang
tersedia. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan
kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi
dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang.
Analisa lingkungan eksternal, dengan maksud
untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan
dapat mempengaruhi organisasi. Disamping itu, perusahaan perlu mengidentifikasi
lingkungan lebih khusus, seperti para penyedia, pasar organisasi, para pesaing,
pasar tenaga kerja dan lembaga-lembaga keuangan, di mana kekuatan-kekuatan ini
akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan.
Meski
pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks
bisnis, namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan
pula dalam konteks pendidikan, khususnya pada tingkat persekolahan, karena
memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan
internal maupun eksternal, sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar
dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri.
2.
Pengorganisasian (organizing)
Fungsi
manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). George R. Terry
(1986) mengemukakan bahwa :
“Pengorganisasian
adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara
orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh
kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi
lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”.
Lousie E.
Boone dan David L. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian : “… as the act of
planning and implementing organization structure. It is the process of
arranging people and physical resources to carry out plans and acommplishment
organizational obtective”.
Dari kedua
pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan
upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan
organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam
pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang
mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya.
Berkenaan
dengan pengorganisasian ini, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas
dalam organisasi, diantaranya adalah :
(a) organisasi harus profesional, yaitu
dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan; (b) pengelompokan
satuan kerja harus menggambarkan pembagian kerja;
(c) organisasi harus mengatur
pelimpahan wewenang dan tanggung jawab;
(d) organisasi harus mencerminkan
rentangan kontrol;
(e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah; dan
(f)
organisasi harus fleksibel dan seimbang.
Ernest Dale
seperti dikutip oleh T. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses
pengorganisasian, yaitu :
(a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus
dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi;
(b) pembagian beban pekerjaan
total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang;
dan
(c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan
pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.
3.
Pelaksanaan (actuating)
Dari seluruh
rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen
yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak
berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi
actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung
dengan orang-orang dalam organisasi
Dalam hal
ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha
menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka
berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran
anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin
mencapai sasaran-sasaran tersebut.
Dari
pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk
menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan
dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara
optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.
Hal yang
penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa
seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :
(1) merasa
yakin akan mampu mengerjakan,
(2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan
manfaat bagi dirinya,
(3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas
lain yang lebih penting, atau mendesak,
(4) tugas tersebut merupakan
kepercayaan bagi yang bersangkutan dan
(5) hubungan antar teman dalam
organisasi tersebut harmonis.
4.
Pengawasan (controlling)
Pengawasan
(controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam
suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai
fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984)
memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : “… the process by which manager
determine wether actual operation are consistent with plans”.
Sementara
itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995)
mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses
pengawasan, bahwa :
“Pengawasan
manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan
dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik,
membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,
menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan
koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian
tujuan-tujuan perusahaan.”
Dengan
demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan
agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah
tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak
penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk
mengatasinya.
Selanjutnya
dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima
tahapan, yaitu :
(a) penetapan standar pelaksanaan;
(b) penentuan pengukuran
pelaksanaan kegiatan;
(c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata;
(d)
pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan
penyimpangan-penyimpangan; dan
(e) pengambilan tindakan koreksi, bila
diperlukan.
Fungsi-fungsi
manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu
dengan lainnya, sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen.
Dengan demikian, proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara
berbagai fungsi manajemen.
Dalam
perspektif persekolahan, agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai
secara efektif dan efisien, maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan
yang amat vital. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di
dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola
secara baik dan tertib. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik,
boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi, yang pada
gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya.
Dengan
demikian, setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang
jelas dan realisitis, pengorganisasian yang efektif dan efisien, pengerahan dan
pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas
kinerjanya, dan pengawasan secara berkelanjutan.
C. Bidang
Kegiatan Pendidikan
Berbicara
tentang kegiatan pendidikan, di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli
tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen
pendidikan. Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang
garapan yaitu :
Administrasi material, yaitu kegiatan yang
menyangkut bidang-bidang materi/ benda-benda, seperti ketatausahaan sekolah,
administrasi keuangan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.
Administrasi personal, mencakup di dalamnya
administrasi personal guru dan pegawai sekolah, juga administrasi murid. Dalam
hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan
yang sangat penting.
Administrasi kurikulum, seperti tugas
mengajar guru-guru, penyusunan sylabus atau rencana pengajaran tahunan,
persiapan harian dan mingguan dan sebagainya.
Hal serupa
dikemukakan pula oleh M. Rifa’i (1980) bahwa bidang-bidang administrasi
pendidikan terdiri dari :
Bidang kependidikan atau bidang edukatif,
yang menyangkut kurikulum, metode dan cara mengajar, evaluasi dan sebagainya.
Bidang personil, yang mencakup unsur-unsur
manusia yang belajar, yang mengajar, dan personil lain yang berhubungan dengan
kegiatan belajar mengajar.
Bidang alat dan keuangan, sebagai alat-alat
pembantu untuk melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan
pendidikan sebaik-baiknya.
Sementara
itu, Thomas J. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2002)
mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan, mencakup :
(1) instruction
and curriculum development;
(2) pupil personnel;
(3) community school
leadership;
(4) staff personnel;
(5) school plant;
(6) school trasportation;
(7) organization and structure dan
(8) School finance and business management.
Di lain
pihak, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah menerbitkan
buku Panduan Manajemen Sekolah, yang didalamnya mengetengahkan bidang-bidang
kegiatan manajemen pendidikan, meliputi:
(1) manajemen kurikulum;
(2) manajemen
personalia;
(3) manajemen kesiswaan;
(4) manajemen keuangan;
(5) manajemen
perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah.
Dari
beberapa pendapat di atas, agaknya yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai
bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J. Sergiovani.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, pandangan Thomas J. Sergiovani
kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan, terutama dalam bidang school
transportation dan business management. Dengan alasan tertentu, kebijakan umum
pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. Kendati demikian,
dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan, ke depannya pemikiran ini sangat
menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia.
Merujuk
kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam buku
Panduan Manajemen Sekolah, berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang
bidang-bidang kegiatan pendidikan di sekolah, yang mencakup :
1. Manajemen
kurikulum
Manajemen
kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. Prinsip dasar
manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan
dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru
untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya.
Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap :
(a)
perencanaan;
(b) pengorganisasian dan koordinasi;
(c) pelaksanaan; dan
(d)
pengendalian.
Dalam
konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari (2006)
mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap :
Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah
sebagai :
(1) analisis kebutuhan;
(2) merumuskan dan menjawab pertanyaan
filosofis;
(3) menentukan disain kurikulum; dan
(4) membuat rencana induk
(master plan): pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian.
Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah
:
(1) perumusan rasional atau dasar pemikiran;
(2) perumusan visi, misi, dan
tujuan;
(3) penentuan struktur dan isi program;
(4) pemilihan dan
pengorganisasian materi;
(5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran;
(6)
pemilihan sumber, alat, dan sarana belajar; dan
(7) penentuan cara mengukur
hasil belajar.
Tahap implementasi atau pelaksanaan;
meliputi langkah-langkah:
(1) penyusunan rencana dan program pembelajaran
(Silabus, RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran);
(2) penjabaran materi
(kedalaman dan keluasan);
(3) penentuan strategi dan metode pembelajaran;
(4)
penyediaan sumber, alat, dan sarana pembelajaran;
(5) penentuan cara dan alat
penilaian proses dan hasil belajar; dan
(6) setting lingkungan pembelajaran
Tahap penilaian; terutama dilakukan untuk
melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan,
baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat
mencakup Konteks, input, proses, produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan
pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang.
Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan,
implementasi design dan cost benefit dari rancangan. Penilaian proses memiliki
fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam
melaksanakan program. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian
proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif)
2. Manajemen
Kesiswaan
Dalam
manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu :
(a) siswa harus
diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk
berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait
dengan kegiatan mereka;
(b) kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi
fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena
itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki
wahana untuk berkembang secara optimal;
(c) siswa hanya termotivasi belajar,
jika mereka menyenangi apa yang diajarkan; dan
(d) pengembangan potensi siswa
tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan
psikomotor.
3. Manajemen
personalia
Terdapat
empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu :
(a) dalam mengembangkan sekolah,
sumber daya manusia adalah komponen paling berharga;
(b) sumber daya manusia
akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik, sehingga mendukung
tujuan institusional;
(c) kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta
perilaku manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan
pengembangan sekolah; dan
(d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya
mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk
mencapai tujuan sekolah.
Disamping
faktor ketersediaan sumber daya manusia, hal yang amat penting dalam manajamen
personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di
sekolah. Oleh karena itu, upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil
sekolah menjadi mutlak diperlukan.
4. Manajemen
keuangan
Manajemen
keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana,
kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan
program tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan
pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan.
Inti dari
manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena
itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan
pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu
diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan
baik yang bersumber pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.
5. Manajemen
perawatan preventif sarana dan prasana sekolah
Manajemen
perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang
dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti
gedung, mebeler, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk
meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan dan
menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah.
Dalam
manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara
pembentukan tim pelaksana, membuat daftar sarana dan pra saran, menyiapkan
jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja
perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang
berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan
kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah.
Sedangkan
untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana, mengupayakan
pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana, menyebarluaskan
informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah, dan
membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk
memotivasi warga sekolah.






0 komentar:
Posting Komentar