Senin, 04 Juni 2012

Pengertian dan Penjelasan Sudut pandang ekonomis



Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar-menukar, jual-beli, memproduksi memasarkan, bekerja mempekerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya, dengan maksud memperoleh untung. Mungkin bisnis dapat dilukiskan sebagai kegiatan ekonomis yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan untung. Dalam bisnis modern untung itu diekspresikan dalam bentuk uang, tetapi hal itu tidak hakiki untuk bisnis. Yang penting ialah kegiatan antar-manusia ini bertujuan mencari untung dan karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Tetapi perlu segera ditambahkan, pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi diadakan dalam interaksi. Bisnis berlangsung sebagai komunikasi sosial yang menguntungkan untuk kedua belah pihak yang melibatkan diri. Bisnis bukanlah karya amal. Karena itu bisa timbul salah paham, jika kita mengatakan, bisnis merupakan suatu aktivitas sosial.
Kata “sosial” di sini tidak dimaksudkan dalam arti “suka membantu orang lain”, sebagaimana sering dimengerti dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam konteks populer. Bisnis justru tidak mempunyai sifat membantu orang dengan sepihak, tanpa mengharapkan sesuatu kembali. Bila seorang teman minta kerelaan saya untuk menukar uang kertas besar dengan uang kecil atau uang dollar Amerika dengan uang rupiah Indonesia, kami berdua tidak terlibat dalam perbuatan bisnis, walaupun dipandang sepintas lalu kami mengadakan “transaksi” yang mempergunakan uang. Saya hanya menukar uang itu untuk membantu teman. Dari situ teman saya memang mendapat manfaat (ia membutuhkan uang kecil); saya tidak berkepentingan sedikit pun. Selain itu, kami berdua tidak terlibat dalam suatu kegiatan yang terorganisasi atau terstruktur. Akan tetapi, jika saya membuka perusahaan “Money Changer” untuk pelayanan umum, saya terjun dalam bisnis. Walaupun saya memang “melayani” banyak orang dengan menawarkan jasa yang berguru untuk masyarakat, saya melakukannya to make money, untuk mencari uang.
Atau contoh dari konteks lain. Bila saya membantu kenalan dengan memperbaiki alat rumah tangga atau mobilnya yang rusak, kami berdua tidak menjalin suatu relasi ekonomis. Saya hanya berbuat baik kepada dia dan tidak memungut biaya.
Mungkin pada kesempatan lain kenalan itu membantu saya juga tetapi itu pun bukan alasan utama untuk kesediaan saya. Karena kebetulan saya bisa, saya hanya mau membantu menghilangkan ketidakberesan yang dialami seorang kawan dengan alat rumah tangga atau mobilnya. Tetapi bila saya bekerja sebagai karyawan di bengkel, saya tidak saja membantu pemiliknya (walaupun dia barangkali masih famili atau kenalan). Saya menjalin hubungan ekonomis dengan pemilik itu, karena saya bekerja di situ untuk memperol:.h gaji. Di samping itu mungkin ada motivasi lain lagi untuk bekerja justru di ten Tat itu dan bukan di tempat lain. Tetapi bagaimanapun juga, saya bekerja untuk mencari nafkah. Dan ma kin besar gaji saya, ma kin luas kesempatan untuk bisa redup dengan baik dan nyaman. Karena itu, seandainya di tempat lain ditaw,,rkan gaji lebih memuaskan, kemungkinan besar saya akan pindah kerja. Di sisi :ain, bengkel atau perusahaan apa saja yang mempekerjakan karyawan tidak semata-mata menerima dia untuk berbuat baik kepadanya, tetapi untuk menca ,ai tujuan perusahaan yang di samping tujuan-tujuan lain barangkali pasti meliputi faktor memperoleh untung. Bisnis selalu bertujuan mendapat keuntungan dan perusahaan dapat disebut organisasi yang didirikan dengan tujuan sekali lagi, di antara tujuan-tujuan lain meraih keuntungan.
Teori ekonomi menjelaskan bagaimana dalam sistem ekonomi pasar bebas para pengusaha dengan memanfaatkan sumber daya yang langka (tenaga kerja, bahan mentah, informasi/pengetahuan, modal) menghasilkan barang dan jasa yang be guns untuk masyarakat. Para produsen akan berusaha untuk meningkatkan penjualan demikian rupa, sehingga hasil bersih akan mengimbangi atau malah biaya produksi. Keseimbangan itu penting supaya perusahaan tidak merugi. Tetapi keseimbangan saja tidak cukup. Para pemilik perusahaan menghaiapkan laba yang bisa dipakai untuk ekspansi perusahaan atau tujuan lain. Jika kompetisi pada pasar bebas berfungsi dengan semestinya, akan menyusul efisiensi ekonomis, artinya hasil maksimal akan dicanai dengan pengetaran Hal itu akan tampak dalam harga produk atau jasa yang paling menarik untuk publik. Efisiensi merupakan kata kunci dalam ekonomi modern. Untuk mencapai tujuan itu para ekonom telah mengembangkan pelbagai teknik atau kiat.
Dipandang dari sudut ekonomis, good business atau Ns’ pis yang baik adalah bisnis yang membawa banyak untung. Orang bisnis selalu akan berusaha membuat bisnis yang baik (dalam arti itu). Dapat dimengerti bila manajer kepala ingin mempertahankan produktivitas perusahaan selama itu. Perusahaan ini harus bersaing dengan perusahaan kimia lainnya. Jika produktivitas menurun, biaya produksi akan bertambah, sehingga harga produknya perlu dinaikkan. Tetapi dengan demikian harga produknya bisa menjadi terlalu tinggi, dibanding dengan harga yang ditetapkan oleh pesaing. Akibat tingkat produksi cenderung menurun, perusahaan bisa memasuki daerah “angka merah”, fenomena yang sangat ditakuti setiap manajer. Nasib manajer itu sendiri berkaitan erat dengan kemungkinan ini. Karena itu, masuk akal saja, bila manajer kepala, Kevin Lombard, menuntut agar unit produksi yang dipimpin Marc Jones secara minimal akan mempertahankan tingkat produktivitas yang sama seperti di bawah pimpinan pendahulunya.
Bisa dimengerti pula bila kepala bagian pemasaran dalam kasus 2 (Pemasok komputer) ingin menjual sebanyak mungkin unit komputer. Hal itu akan membawa keuntungan maksimal bagi perusahaannya dan justru itulah alasannya ia dipekerjakan di situ. Mungkin secara pribadi ia berkepentingan juga, karena mendapat untung ekstra bila penjualan lancar, entah dalam bentuk bonus pada akhir tahun atau dalam bentuk lain.
Demikian juga perusahaan (Perusahaan asbes) dan (Kerahasiaan bank) mencoba untuk meningkatkan keuntungan. Bagi tujuan itu lebih mudah tercapai dengan mengarahkan perhatiatinya ke luar negeri. Ini merupakan hal lumrah dalam zaman globalisasi perdagangan sekarang. Dengan memindahkan pabriknya ke Afrika, “Kansas Asbestos Company” berhasil menekan biaya produksi menjadi lebih kecil daripada di negerinya sendiri dan karena itu tingkat keuntungan bisa dipertahankan atau malah bertambah besar. Pertimbangan ekonomis adalah satu-satunya alasan untuk memindahkan pabriknya. Begitu pula bank di negara kecil bisa memperluas asetnya dengan menawarkan jasa yang menarik bagi nasabah bank di luar negeri. Justru karena negaranya kecil, bank-bank Swiss atau Luxemburg tidak bisa mengharapkan banyak dana dari pasar modal dalam negeri. Supaya bisa tumbuh besar, mereka menawarkan jasa dengan syarat atraktif untuk pemilik modal luar negeri. Di sini juga pertimbangannya semata-mata bersifat eKonomis. mengadakan bisnis yang baik.


  • Ramalan Hari Ini
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More